I. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perairan
Asia Tenggara beradadalam jalur pelayaran yang menghubungkannegri Cina dan
India, Persia dan Negri-negri Arab di Timur tengah Yang berlanjut ke Eropa.
Jalur laut menjadi sangat penting setelah jalur darat dirasakan tidak aman lagi
setelah berkecamuk peperangan di Asia Tengah.Secara Khusus jalur perdagangan antara
Asia dengan Eropa disebut dengan jalur Sutera (silik roads). Silk roads adalah nama puitis yang
diberikan kepadajalur perdagan yang terbentuk dari Timur ke Barat sejak dahulu
kala.
Ternate
merupakan salah satu kesultanan yang mengalami perkembangan dalam bidang
perdaganagan sejalan dengan meningkatnya perdagangan rempah-rempah dikawasan
Timur Nusantara. Kesultanan Ternate berdiri sejaksekitar abad ke-15,kemudian
berkembang menjadi kesultanan terkemuka di Maluku. Dalam perkembangannya
kemudian tepatnya setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis, kesultanan
ternate juga dikunjungi para pedagang Internasional, Khususnya bangsa Arab dan
Persia,yang berusaha menemukan wilayah utama penghasil rempah-rempah.
Bangsa
Eropa yang pertama menemukan kepulauan Maluku adalah portugis pada tahun 1512
M. Pada tahun itu dua armada portugis, masing-masing di bawah pimpinan Anthonio
D’Abreu Fransisco Serau, mendarat di pulau Banda dan pulau Penyu.
kehadiran
bangsa Portugis dan Spanyol yang semula hanya mengurus perdagangan
rempah-rempah saja, ternyata kemudian menggiatkan pula usaha menyebarluaskan
Agama Kristen. Hal ini menimbulkan kegusaran penduduk khususnya di daerah
Maluku Utara yang sejak abad ke-15 M sudah menjadi pemeluk agama Islam yang
taat, keadaan ini sering menyebabkan benturan dan pertentangan antara Portugis
dengan penduduk setempat, hubungan yang kurang baik antara Pertugis dan
Kesultanan Ternate menjadi semakin meruncing setelah portugis mulai memaksakan
kehendaknya memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Pada
tahun 1530 M persahabatan antara kerajaan Ternate dan Portugis berakhir,
setelah para pedagang dari benua Eropa merampas hasil Cengkeh milik sultan
Hairun yang Tewas di benteng Santo Paulo, ternate sejak saat itu hubungan
antara potugis dan ternate tidak pernah harmonis lagi.
Selain
itu demi menguasai ternate Gobernador Gonzales de Pareira (1530=1535 M)
membunuh putra mahkota Deyale dengan meracuni makanan yang akan dimakan
pangeran, begitu juga pangeran Hayat ditawan Oleh Portugis. Sehingga sultan
Tabarija naik Tahta (1532-1535 M) dengan tetap mempertahankan wilayah serta
jalur perniagaan tradisional seperti bandar Ternate – Jawa – Aceh – Malaka.
Akibatnya sultan Tabariji ditawan di Goa India dan dipaksa menandatangani
kesetiaan pada penguasa Iberia, Kong Alfonso di Lisabon.
Penggantinya
adalah Sultan Khairun Jamil ( 1535 – 1570 M ) dengan memimpin perang melawan
portugis. Untuk menghancurkan Portugis putra mahkota Babullah mengadakan
hubungan Sulawesi, Makassar, dan kepulauan Nusa Tenggara. Selain itu Hubungan
tradisional dengan Aceh, dan Demak dilanjutkan kembali. Dalam pertempuran yang
hebat Sultan Khairun dibunuh pada tanggal 27 Februari 1570 M. Dan Sultan
Babullah naik Tahta (1570-1583 M) dan kembali memimpin perang setelah berhasil
mengadakan konsolidasi kekuatan. M. Adnan Amal (2007: 64) Mengatakan semangat
juang yang dimiliki sultan Babullah serta nilai-nilai luhur yang
diperjuangkannya untuk membebaskan rakyatnya dari belenggu penjajahan merupakan
aspek penting yang dapat kita sejajarkan dengan perjuangan nasional atau
nasionalisme.
Menurut
Atjo (2009) sultan Babullah yang bernama lengkap Babullah Datu Syah diangkat
menjadi sultan Ternate pada tahun 1570 menggantikan ayahnya sultan Khairun yang
dibunuh Portugis pada tanggal 28 Februari 1570. Sejaktahun 1570 sampai 1575
terjadi perang antara kerajaan Ternate dan Portugis .pembunuhan Sultan Khairun
semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugis, bahkan seluruh
Maluku mendukung perjuangan Sultan Babullah, pos-pos portugis diseluruh Maluku
dan diwilayah Timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama Lima tahun,
akhirnya Portugis meninggalkan Maluku dan Maluku utara untuk selama lamanya
pada tahun 1957.
B.
Rumusan
Masaalah
Adapun
rumusan masaalah yang akan di jadikan pembahasan adalah sejarah perjuangan
Sultan Babullah Mengusir penjajah dari tanah Maluku Utara.
II.
METODE
PENELITIAN
Karya
Tulis ini penulis menggunakan metode
Penilitian sejarah dengan menggunakan
Metode:
1.
Heuristik : Mengumpulkan sumber-sumber
berupa buku dan beberapa tulisan ahli sejarah maluku maupun Artikel-artikel
yang membahas tentang Kesultanan Ternate yang Khususnya perjuangan Sultan
Babullah.
III. PEMBAHASAN
A.
Perjuangan
Sultan Babullah Mengusir Penjajah
Ketika
kita berbicara tentang sejarah lahirnya Kota Ternate maka sangat mustahl
jikalau kita melepaskan melepaskan figur seorang Sultan Babullah untuk hari
lahirnya Kota Ternate. Seperti diketahui dipiihnya tanggal lahir Kota Ternate
karena pada tanggal tersebut, Sultan Babullah bersama rakyatnya berhasil
mengusir Kolonial Portugis untuk meninggalkan bumi rempah-rempah dan bumi
Nusantara yang dijajahnya sekian lama.
Jauh
sebelum kata “Revolusi” muncul dalam
pengertian umum dan dipergunakan dalam falsafah Politik, yang diartikan sebagai
perputaran dan pergantian elit kekuasaan pada negara-negara baru. Bahkan jauh
sebelum terjadinya Revolusi Perancis (1789),Revolusi Komunis di Rusia (1917),
Revolusi Mexico (1919), Revolusi Cina (1949), Revolusi Cuba (1959) Revolusi
Islam Iran (1979), Filipina (1979), maupun revolusi yang terjadi pada
negara-negara Eropa Timur (1989).
Maka
di Ternate tepatnya 15 juli 1575 telah terjadi sebuah peristiwa Revolusioner
yang dapat dikatakan sebagai puncak kejayaan dari masa pemerintahan Sultan
Babullah karena berhasil bersama pasukannya mampu mengusir bangsa Portugis dari
kerjaan Ternate yang dikuasainya kurang lebih sejak tahun 1512. Rakyat semakin
merasakan semangat hidupnya masih melalui api Revolusinya yang terus berkobar
dan masih merasakan memiliki harapan hidupnya. Dengan perjuangan Agama bukan
sekadar menjadi rangkaian doa penuh kepasrahan melainkan serangkaian tindakan
revolusioner penuh bahkan idologi praktek gerakan sosial yang dimotori. Firman
Tuhan baginya tidak sekedar untuk dibaca dan dimengerti melainkan menjadi roh
pembebasan yang membuatnya tidak gentar terhadap segala resiko untuk
memperjuangkan dan membela hak kaum tertindas.
Dia
adalah pemimpin revolusi yang telah mengukir sejarah ternate dan bangsa ini
melalui keberhasilan mengusir kolonial portugis, bahkan dikemudian menjadi
momentum penting dan menentukan bagi sejarah lahirnya sebuah kota Ternate.
Jauh
sebelum kedatangan bangsa kolonila portugis Moloku Kie Raha (Maluku Utara)
khususnya Ternate sejak lama telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa luar
lainya terutama bangsa Cina dan Arab. Di kemudian hari bangsa Portugis
mengetahui tentang daerah rempa-rempah setelah mendapat tulisan yang datang ke
Lusitania dari perantauan yang mengisahkan tentang petualang mereka. Akhirnya
pada tahun 1512 Portugis di bawah pimpinan Antonio dan Francisco serrao tiba di
Maluku kemudian menetap di Ternate.
Phak
Spanyol baru tiba di Tidore pada tahun 1521 dan untuk mengimbangi kekuatan baru
ini maka sultan Ternate mengijinkan bangsa Portugis untuk membangun bentengnya
di Ternate pada tahun 1522 sebagai jaminan kekuatan politik militer hingga
ternate menjadi pusat perdagangan Cengkih bagi seluruh daerah Maluku, namun
dikemudian waktu akhirnya dalam hubungan dagang dan politik tersebut melahirkan
clashI antara bangsa Portugis dengan
Sultan Khairun.
Akan
tetapi perselisihan tersebut dapat diselesaikan dengan jalan pihak yang
bertikai berjanji untuk mengakhiri pertikaian dengan melalui proses pertikaian
melalui proses penyumpahan antara kedua antara belah pihak. De Mesquita
bersumpah diatas Kitab Injil dan Sultan Khairun Bersumpah di atas kitab
Al-Qur’an bahwa tidak akan ada lagi perselisihan ataupun pertikaian antntara
kedua belah pihak akan tetapi pada keesokan harinya Sultan Khairun diundang
kebenteng Portugis yang bernama Nostra Senora de Rosario di Gam Lamo (Kini
Kastela), yang mana Mesquita telah mempersiapkan rencana pembunuhan terhadap
Sultan Khairun dengan menyuruh seorang keponakannya yang bernaman Antonio
Pimental untuk menikam dari belakang ketika Sultan Khairun memasuki benteng
hingga akhirnya terbunuh secara tragis pada tanggal 28 Februari 1570.
Sultan
Khairun dikawal oleh Fanyira Gorango meninggal seketika iyu juga, dan
pengawalnya Fanyira Gorango langsung melapor kepada keluarga sang sultan dan
pada rakyatnya. Akibat dari pembunuhan Sultan Khairun yang dilakukan dengan
sangat licik oleh pihak Portugis maka seluruh rakyat Ternate bangkit untuk
menyerang dan mengepung benteng Gam Lamo di bawah pimpinan Sultan babullah.
Akhirnya
selama lima tahun mereka dikepung hingga tepatnya pada tanggal 28 Desember 1575
mereka menyerah tanpa syarat dan tanggal 31 Desember 1575 Sultan Babullah
mengijinkan orang Portugis untuk meninggalkan Ternate tanpa membawa senjata.
Bendera mereka diturunkan dari atas benteng dan diganti dengan bendera kerjaan
Ternate. Sultan Babullah mengirim Utusan ke Lisabon menuntut kerugian atas
kematian ayahnya. Sayangnya jawaban itu diterima setelah Sultan Babullah wafat.
Isi jawaban itu bahwa de Masquita akan diserahkan ke Ambon. Hanya saja perahu
yang membawanya dilanda Angin dan terdampar di pantai Jawa, perahu itu di bajak
dan sekalian penumpangnya du bunuh, termasuk de Masquita (1579). Sutan Babullah
wafat (Awal tahun 1583) setelah seluruh Maluku dapat dikuasainya.
Babullah
adalah pemberontak bagi zamanya. Pemberontak, sebuah kata yang memiliki kesan
yang menakutkan, ngeri bagi yang mendengarnya secara politis dan Ideologis
mengandung makar dan konotasi lain yang memojokan.
Mengikuti
gaya cerita sebuah film James Bond dalam “Die
Anther Day” bahwa pemberontak adalah teroris bagi satu pihak lain tetapi
pahlawan bagi [ihak lain. Sebut saja : Stalin, Marcuse, Albert Camus, Ernesto
Che Guevara, Gandhi, kahar Muzakar, Tan Malaka, Soekarno, Juga Sultan Babullah
adalah sederet nama yang termasuk manusia beruntung karena di cap sebagai “Pemberontak” di zamannya masing-masing.
Mereka adalah ekstrimis-ekstrimis bagi penguasa di zamannya yang berjuang tanpa
pamrih demi kedaulatan dan pembebasan rakyat tertindas dari segala bentuk
penindasan dan Eksploitasi.
IV. PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
Pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya :
1.
Sultan Babullah merupakan tokoh pertama
dari kerjaan Kesultanan Ternate yang mengusir penjajah kolonial dari Indonesia
yang pada Khsusnya di Moloku Kie Raha itu sendiri.
2.
Patut untuk di beri gelar sebagai Tokoh
revolusi sejati yang dengan semangat perjuangan dari Sultan Babullah yang mampu
mengeluarkan Masyarakat dari belenggu penjajahan dan penindasan itu sendiri.
B.
Saran
Adapun saran
yang diajukan oleh penulis adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
terkait dengan kesultanan ternate yang berjuang melawan penjajawahan di negri
rempah-rempah ini agar supaya generasi penerus bangsa bisa mengingat di setiap
jejak perjuangan para tokoh revolusi bangsa ini seperti Sultan Babullah Itu
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari Buku:
Dinsie Amas dan Rinto Taib, 2008.
TERNATE: Sejarah, Kebudayaan dan Pembangunan Perdamaian Maluku Utara.
LeKRa-MKR, Ternate.
Sapari Pery Achmad, 2011. Kesultanan
Ternate Dalam Lintas Perdagangan Abad XVI-XVII. SKRIPSI, UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA.
Sumber Dari Artikel Internet :
https://conterformunawareducation.files.wordpres.com/2013/06/Perang-Maluku-Perlawanan-rakyat-Maluku.doc
di post Pada tanggal 9 November 2016.
http://repository.upi.edu/9026/2/t_ips_0808971_chapter.pdf
di post pada tanggal 9 November 2016
http://megaslides.top/doc/138302/materi-sejarah-kelas-xi-ips-4-industri-dan-infrastruktur-.
Di post pada tanggal 9 November 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar