Senin, 08 Mei 2017

Sultan Babullah Mengusir Penjajah











I.       PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Perairan Asia Tenggara beradadalam jalur pelayaran yang menghubungkannegri Cina dan India, Persia dan Negri-negri Arab di Timur tengah Yang berlanjut ke Eropa. Jalur laut menjadi sangat penting setelah jalur darat dirasakan tidak aman lagi setelah berkecamuk peperangan di Asia Tengah.Secara Khusus jalur perdagangan antara Asia dengan Eropa disebut dengan jalur Sutera (silik roads). Silk roads adalah nama puitis yang diberikan kepadajalur perdagan yang terbentuk dari Timur ke Barat sejak dahulu kala.
Ternate merupakan salah satu kesultanan yang mengalami perkembangan dalam bidang perdaganagan sejalan dengan meningkatnya perdagangan rempah-rempah dikawasan Timur Nusantara. Kesultanan Ternate berdiri sejaksekitar abad ke-15,kemudian berkembang menjadi kesultanan terkemuka di Maluku. Dalam perkembangannya kemudian tepatnya setelah kejatuhan Malaka ke tangan Portugis, kesultanan ternate juga dikunjungi para pedagang Internasional, Khususnya bangsa Arab dan Persia,yang berusaha menemukan wilayah utama penghasil rempah-rempah.
Bangsa Eropa yang pertama menemukan kepulauan Maluku adalah portugis pada tahun 1512 M. Pada tahun itu dua armada portugis, masing-masing di bawah pimpinan Anthonio D’Abreu Fransisco Serau, mendarat di pulau Banda dan pulau Penyu.
kehadiran bangsa Portugis dan Spanyol yang semula hanya mengurus perdagangan rempah-rempah saja, ternyata kemudian menggiatkan pula usaha menyebarluaskan Agama Kristen. Hal ini menimbulkan kegusaran penduduk khususnya di daerah Maluku Utara yang sejak abad ke-15 M sudah menjadi pemeluk agama Islam yang taat, keadaan ini sering menyebabkan benturan dan pertentangan antara Portugis dengan penduduk setempat, hubungan yang kurang baik antara Pertugis dan Kesultanan Ternate menjadi semakin meruncing setelah portugis mulai memaksakan kehendaknya memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Pada tahun 1530 M persahabatan antara kerajaan Ternate dan Portugis berakhir, setelah para pedagang dari benua Eropa merampas hasil Cengkeh milik sultan Hairun yang Tewas di benteng Santo Paulo, ternate sejak saat itu hubungan antara potugis dan ternate tidak pernah harmonis lagi.
Selain itu demi menguasai ternate Gobernador Gonzales de Pareira (1530=1535 M) membunuh putra mahkota Deyale dengan meracuni makanan yang akan dimakan pangeran, begitu juga pangeran Hayat ditawan Oleh Portugis. Sehingga sultan Tabarija naik Tahta (1532-1535 M) dengan tetap mempertahankan wilayah serta jalur perniagaan tradisional seperti bandar Ternate – Jawa – Aceh – Malaka. Akibatnya sultan Tabariji ditawan di Goa India dan dipaksa menandatangani kesetiaan pada penguasa Iberia, Kong Alfonso di Lisabon.
Penggantinya adalah Sultan Khairun Jamil ( 1535 – 1570 M ) dengan memimpin perang melawan portugis. Untuk menghancurkan Portugis putra mahkota Babullah mengadakan hubungan Sulawesi, Makassar, dan kepulauan Nusa Tenggara. Selain itu Hubungan tradisional dengan Aceh, dan Demak dilanjutkan kembali. Dalam pertempuran yang hebat Sultan Khairun dibunuh pada tanggal 27 Februari 1570 M. Dan Sultan Babullah naik Tahta (1570-1583 M) dan kembali memimpin perang setelah berhasil mengadakan konsolidasi kekuatan. M. Adnan Amal (2007: 64) Mengatakan semangat juang yang dimiliki sultan Babullah serta nilai-nilai luhur yang diperjuangkannya untuk membebaskan rakyatnya dari belenggu penjajahan merupakan aspek penting yang dapat kita sejajarkan dengan perjuangan nasional atau nasionalisme.
Menurut Atjo (2009) sultan Babullah yang bernama lengkap Babullah Datu Syah diangkat menjadi sultan Ternate pada tahun 1570 menggantikan ayahnya sultan Khairun yang dibunuh Portugis pada tanggal 28 Februari 1570. Sejaktahun 1570 sampai 1575 terjadi perang antara kerajaan Ternate dan Portugis .pembunuhan Sultan Khairun semakin mendorong rakyat Ternate untuk menyingkirkan Portugis, bahkan seluruh Maluku mendukung perjuangan Sultan Babullah, pos-pos portugis diseluruh Maluku dan diwilayah Timur Indonesia digempur, setelah peperangan selama Lima tahun, akhirnya Portugis meninggalkan Maluku dan Maluku utara untuk selama lamanya pada tahun 1957.


B.       Rumusan Masaalah
Adapun rumusan masaalah yang akan di jadikan pembahasan adalah sejarah perjuangan Sultan Babullah Mengusir penjajah dari tanah Maluku Utara.

II.    METODE PENELITIAN
Karya Tulis ini penulis menggunakan metode  Penilitian sejarah dengan menggunakan  Metode:
1.        Heuristik : Mengumpulkan sumber-sumber berupa buku dan beberapa tulisan ahli sejarah maluku maupun Artikel-artikel yang membahas tentang Kesultanan Ternate yang Khususnya perjuangan Sultan Babullah.

III. PEMBAHASAN
A.      Perjuangan Sultan Babullah Mengusir Penjajah
Ketika kita berbicara tentang sejarah lahirnya Kota Ternate maka sangat mustahl jikalau kita melepaskan melepaskan figur seorang Sultan Babullah untuk hari lahirnya Kota Ternate. Seperti diketahui dipiihnya tanggal lahir Kota Ternate karena pada tanggal tersebut, Sultan Babullah bersama rakyatnya berhasil mengusir Kolonial Portugis untuk meninggalkan bumi rempah-rempah dan bumi Nusantara yang dijajahnya sekian lama.
Jauh sebelum kata “Revolusi”  muncul dalam pengertian umum dan dipergunakan dalam falsafah Politik, yang diartikan sebagai perputaran dan pergantian elit kekuasaan pada negara-negara baru. Bahkan jauh sebelum terjadinya Revolusi Perancis (1789),Revolusi Komunis di Rusia (1917), Revolusi Mexico (1919), Revolusi Cina (1949), Revolusi Cuba (1959) Revolusi Islam Iran (1979), Filipina (1979), maupun revolusi yang terjadi pada negara-negara Eropa Timur (1989).
Maka di Ternate tepatnya 15 juli 1575 telah terjadi sebuah peristiwa Revolusioner yang dapat dikatakan sebagai puncak kejayaan dari masa pemerintahan Sultan Babullah karena berhasil bersama pasukannya mampu mengusir bangsa Portugis dari kerjaan Ternate yang dikuasainya kurang lebih sejak tahun 1512. Rakyat semakin merasakan semangat hidupnya masih melalui api Revolusinya yang terus berkobar dan masih merasakan memiliki harapan hidupnya. Dengan perjuangan Agama bukan sekadar menjadi rangkaian doa penuh kepasrahan melainkan serangkaian tindakan revolusioner penuh bahkan idologi praktek gerakan sosial yang dimotori. Firman Tuhan baginya tidak sekedar untuk dibaca dan dimengerti melainkan menjadi roh pembebasan yang membuatnya tidak gentar terhadap segala resiko untuk memperjuangkan dan membela hak kaum tertindas.
Dia adalah pemimpin revolusi yang telah mengukir sejarah ternate dan bangsa ini melalui keberhasilan mengusir kolonial portugis, bahkan dikemudian menjadi momentum penting dan menentukan bagi sejarah lahirnya sebuah kota Ternate.
Jauh sebelum kedatangan bangsa kolonila portugis Moloku Kie Raha (Maluku Utara) khususnya Ternate sejak lama telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa luar lainya terutama bangsa Cina dan Arab. Di kemudian hari bangsa Portugis mengetahui tentang daerah rempa-rempah setelah mendapat tulisan yang datang ke Lusitania dari perantauan yang mengisahkan tentang petualang mereka. Akhirnya pada tahun 1512 Portugis di bawah pimpinan Antonio dan Francisco serrao tiba di Maluku kemudian menetap di Ternate.
Phak Spanyol baru tiba di Tidore pada tahun 1521 dan untuk mengimbangi kekuatan baru ini maka sultan Ternate mengijinkan bangsa Portugis untuk membangun bentengnya di Ternate pada tahun 1522 sebagai jaminan kekuatan politik militer hingga ternate menjadi pusat perdagangan Cengkih bagi seluruh daerah Maluku, namun dikemudian waktu akhirnya dalam hubungan dagang dan politik tersebut melahirkan clashI antara bangsa Portugis dengan Sultan Khairun.
Akan tetapi perselisihan tersebut dapat diselesaikan dengan jalan pihak yang bertikai berjanji untuk mengakhiri pertikaian dengan melalui proses pertikaian melalui proses penyumpahan antara kedua antara belah pihak. De Mesquita bersumpah diatas Kitab Injil dan Sultan Khairun Bersumpah di atas kitab Al-Qur’an bahwa tidak akan ada lagi perselisihan ataupun pertikaian antntara kedua belah pihak akan tetapi pada keesokan harinya Sultan Khairun diundang kebenteng Portugis yang bernama Nostra Senora de Rosario di Gam Lamo (Kini Kastela), yang mana Mesquita telah mempersiapkan rencana pembunuhan terhadap Sultan Khairun dengan menyuruh seorang keponakannya yang bernaman Antonio Pimental untuk menikam dari belakang ketika Sultan Khairun memasuki benteng hingga akhirnya terbunuh secara tragis pada tanggal 28 Februari 1570.
Sultan Khairun dikawal oleh Fanyira Gorango meninggal seketika iyu juga, dan pengawalnya Fanyira Gorango langsung melapor kepada keluarga sang sultan dan pada rakyatnya. Akibat dari pembunuhan Sultan Khairun yang dilakukan dengan sangat licik oleh pihak Portugis maka seluruh rakyat Ternate bangkit untuk menyerang dan mengepung benteng Gam Lamo di bawah pimpinan Sultan babullah.
Akhirnya selama lima tahun mereka dikepung hingga tepatnya pada tanggal 28 Desember 1575 mereka menyerah tanpa syarat dan tanggal 31 Desember 1575 Sultan Babullah mengijinkan orang Portugis untuk meninggalkan Ternate tanpa membawa senjata. Bendera mereka diturunkan dari atas benteng dan diganti dengan bendera kerjaan Ternate. Sultan Babullah mengirim Utusan ke Lisabon menuntut kerugian atas kematian ayahnya. Sayangnya jawaban itu diterima setelah Sultan Babullah wafat. Isi jawaban itu bahwa de Masquita akan diserahkan ke Ambon. Hanya saja perahu yang membawanya dilanda Angin dan terdampar di pantai Jawa, perahu itu di bajak dan sekalian penumpangnya du bunuh, termasuk de Masquita (1579). Sutan Babullah wafat (Awal tahun 1583) setelah seluruh Maluku dapat dikuasainya.
Babullah adalah pemberontak bagi zamanya. Pemberontak, sebuah kata yang memiliki kesan yang menakutkan, ngeri bagi yang mendengarnya secara politis dan Ideologis mengandung makar dan konotasi lain yang memojokan.
Mengikuti gaya cerita sebuah film James Bond dalam “Die Anther Day” bahwa pemberontak adalah teroris bagi satu pihak lain tetapi pahlawan bagi [ihak lain. Sebut saja : Stalin, Marcuse, Albert Camus, Ernesto Che Guevara, Gandhi, kahar Muzakar, Tan Malaka, Soekarno, Juga Sultan Babullah adalah sederet nama yang termasuk manusia beruntung karena di cap sebagai “Pemberontak” di zamannya masing-masing. Mereka adalah ekstrimis-ekstrimis bagi penguasa di zamannya yang berjuang tanpa pamrih demi kedaulatan dan pembebasan rakyat tertindas dari segala bentuk penindasan dan Eksploitasi.


IV.   PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarkan Pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya :
1.        Sultan Babullah merupakan tokoh pertama dari kerjaan Kesultanan Ternate yang mengusir penjajah kolonial dari Indonesia yang pada Khsusnya di Moloku Kie Raha itu sendiri.
2.        Patut untuk di beri gelar sebagai Tokoh revolusi sejati yang dengan semangat perjuangan dari Sultan Babullah yang mampu mengeluarkan Masyarakat dari belenggu penjajahan dan penindasan itu sendiri.
B.       Saran
Adapun saran yang diajukan oleh penulis adalah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan kesultanan ternate yang berjuang melawan penjajawahan di negri rempah-rempah ini agar supaya generasi penerus bangsa bisa mengingat di setiap jejak perjuangan para tokoh revolusi bangsa ini seperti Sultan Babullah Itu sendiri.





DAFTAR PUSTAKA
Sumber dari Buku:
Dinsie Amas dan Rinto Taib, 2008. TERNATE: Sejarah, Kebudayaan dan Pembangunan Perdamaian Maluku Utara. LeKRa-MKR, Ternate.
Sapari Pery Achmad, 2011. Kesultanan Ternate Dalam Lintas Perdagangan Abad XVI-XVII. SKRIPSI, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA.
Sumber Dari Artikel Internet :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar